Senin, 14 Maret 2016

Penyakit Utama Penyebab Kematian Udang di Tambak dan Cara Penanggulangannya

Udang terkena penyakit. Sumber: Akuakultur.wordpress.com

Penyakit secara umum didefinisikan sebagai ketidaknormalan terhadap fungsi sebagian atau seluruh organ tubuh dikarenakan adanya gangguan faktor-faktor abiotik / non-infectious disease (kualitas air, makanan dan lainnya) dan faktor biotik / infectoius disease (organisme penyebab penyakit atau patogen).
Beberapa penyakit udang yang sering ditemukan di lapangan dapat disebabkan oleh patogen virus, bakteri, parasit ataupun jamur. Berikut dijelaskan secara ringkas beberapa penyakit potensial yang akhir-akhir ini sering menimbulkan kerugian pada budidaya udang di tambak, gejala klinis, serta upaya penanggulangannya.
1. Penyakit udang gripis/penyakit bercak coklat putih pada cangkang
Penyebab : Jenis bakteri Vibrio sp., Pseudomonas sp., Myxobacterium sp., dan Flavobacterium sp.
Gejala Klinis : Warna tubuh putih kecoklatan, karapas, kaki jalan, kaki renang dan ekor udang mengalami kerontokan, lemah dan nafsu makan berkurang.
Penanggulangan :
  • Cara menanggulangi penyakit ini dapat dilakukan dengan cara memperbaiki mutu air, pengaturan pakan dan pengaturan padat penebaran yang sesuai dengan kondisi lahan. Dapat pula dilakukan dengan cara memberikan antibiotika melalui percampuran dengan telur ayam atau telur bebek mentah dengan perbandingan 1 butir telur untuk 10 kg pakan. Campuran telur dan antibiotika diaduk dengan pakan dan dikeringkan ditempat yang teduh lalu ditebar ke dalam tambak.
  • Dosis yang digunakan untuk penggunaan antibiotika adalah : Terramycin 30 mg/kg pakan, Erythromycin 40 mg/kg pakan, Oxytetracyclin 40-50 mg/kg pakan, Furanace 100 mg/kg pakan.
  • Pemberian antibiotika dalam pakan dilakukan terus-menerus selama 3 hingga 5 hari, kecuali untuk Furanace diberikan selama 14 hari.
2. Penyakit bercak putih (White Spot Disease)
Penyebab : Virus SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculo Virus)
Gejala Klinis : Udang yang sakit tampak lemah dan berenang ke pematang tambak, usus kosong, tubuh pucat atau berwarna kemerah-merahan dan kadang-kadang ditempeli organisme penempel. Gejala khas berupa bercak putih dengan diameter 1-2 mm, mula-mula terlihat dibagian karapas dan bila sudah parah bercak putih menyebar sampai ke seluruh bagian tubuh.
Penanggulangan : Hingga saat ini belum ada obat yang efektif untuk penyakit viral (baik penyakit kepala kuning maupun bercak puih). Oleh karena itu, tindak pencegahan adalah langkah yang paling tepat. Upaya penaggulangannya dapat dilakukan antara lain dengan cara mengganti air secara rutin setiap hari minimal 5% dari total volume air tambak, penggunaan pakan harus dipantau secara ketat agar tidak menimbulkan penimbunan sisa pakan yang menyebabkan pembusukan, mengeluarkan tanah dasar tambak yang berwrna hitam dan berbau busuk, dan mengisolasi daerah yang sedang terserang penyakit. Udang yang terserang dalam keadaan perlu segera dilakukan tindakan pemusnahan dengan jalan pembakaran dan penguburan agar tidak menjadi sumber infeksi.
Disamping cara penanggulangan pnyekit seperti diatas, dapat pula ditempuh melalui peningkatan laju pemulihan selera makan, yaitu hendaknya udang diberi pakan berupa diet dengan nomor grade pakan yang satu tingkat lebih rendahserta berkondisi baik.
3. Penyakit kepala kuning (Yellow Head Disease)
Penyebab : Virus YHV (Yellow Head Baculo Virus)
Gejala Klinis : Warna tubuh udang pucat, insang dan hepatopankreas berwarna kekuningan. Gejala klinis tersebut pada umumnya mulai tampak antara 50-70 hari setelah penebaran udang di tambak. Nafsu makan udang mula-mula meningkat dalam beberapa hari kemudian berhenti sama sekali.
Penanggulangan : Lihat upaya penanggulangan terhadap penyakit bercak putih.
Manajemen Kesehatan Udang
Upaya penanggulangan penyakit udang di tambak dapat dilakukan melalui :
Penggunaan benur yang prima
  • Benur sebaiknya berasal dari peneluran induk yang pertama atau kedua, dan berukuran seragam.
  • Bagian tubuh seperti rostrum, kaki jalan, dan ekor bentuknya normal; tanpa erosi ataupun kehitaman (melanisasi).
  • Bagian perut bersih, usus penuh pakan, ketebalan bagian perut.
  • Benur yang sehat berenang dengan posisi dengan posisi tubuh lurus, sangat responsif terhadap stimulir dari luar, dan berenang menentang arus ketika air diputar.
  • Bebas dari organisme penempel, relatif bebas dari infeksi Monodon Baculo Virus (MBV) – dapat dideteksi melalui keberadaan “occlusion bodies” secara mikroskopis yang menggambarkan ringan-beratnya infeksi.
  • Bebas dari infeksi bercak putih SEMBV yang dapat dideteksi secara dini melalui teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Cara lain juga dapat dilakukan melalui metoda skrining PL, yaitu benur ditreatment dengan formalin ± 200 ppm selama 1-2 jam. Melalui proses skrining ini, benur yang terinfeksi berat akan mati; sedangkan benur yang sehat akan tetap hidup dan siap ditebar ke dalam tambak.
Peningkatan kesehatan udang
  • Suplemen vitamin C dan astaxanthin dalam pakan untuk meningkatkan daya tahan udang terhadap serangan penyakit.
  • Imunisasi pada udang baik dengan pemberian vaksin maupun imunostimulan untuk meningkatkan kekebalan tubuh udang sehingga lebih tahan terhadap serangan penyakit dan akhirnya dapat meningkatkan kelangsungan hidup udang.
  • Penggunaan bakteri Probiotuk antara lain : Lactobacillus sp. strain nonpatogen, Bacillus S11.
Peningkatan kualitas budidaya
Perbaikan kualitas air dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip bioremediasi yaiut penguraian limbah dengan menggunakan mikroba seperti Nitrosomonas, Nitrobacter dan Spirulina.
Pencegahan terjadinya infeksi dan kontaminasi patogen penyebab penyakit

  • Pencucian dasar tambak dilakukan 2 kali yaitu dengan cara menggelontorkan atau dengan cara mengisi tambak sampai ketinggian 30 cm, kemudian dibiarkan sehari semalam setelah itu dibuang sampai habis. Pencucian kedua dimaksudkan untuk membuang sisa-sisa penggelontoran pertama yang belum terbuang.
  • Menggunakan sistem tertutup (closed system), semi tertutup (semi-closed system) dan resirkulasi untuk mencegah pemasukan agen penyakit dari luar. Penggunaan peralatan tambak seperti alat sampling udang, tempat pakan, dsb, sebaiknta dipisahkan untuk masing-masing petak tambak.
  • Menggunakan filter biologis dan tandon baik untuk air laut maupun tawar.
  • Mencegah pemasukan hewan liar (udang, ikan, dll) yang dapat bertindak sebagai carrier.
  • Air bekas tambak (limbah) terutama dari tambak yang terserang wabah harus didesinfeksi terlebih dahulu sebelum dibuang agar tidak mencmari lingkungan sekitar dan mencegah penyebaran penyakit ke lingkungan sekitar.

Sabtu, 12 Maret 2016

Budidaya Cacing Sutra

Budidaya Cacing Sutra. Sumber: tips-ukm.com


Pendahuluan
Cacing Sutra (Tubifex sp.) sangat dibutuhkan sebagai pakan alami dalam kegiatan unit perbenihan, terutama pada fase awal (larva) karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan ikan dan ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva, disamping itu harganya lebih murah dibanding artemia. Permasalahannya adalah cacing sutra di alam tidak selalu tersedia sepanjang tahun, terutama pada saat musim penghujan, dimana pada saat itu kegiatan pembenihan lele/patin/gurame/ikan lainnya banyak dilakukan.
Cacing ini mudah dikenali dari bentuk tubuhnya yang seperti benang sutra dan berwarna merah kecoklatan karena banyak mengandung haemoglobin. Tubuhnya sepanjang 1 – 2 cm, terdiri dari 30 – 60 segmen atau ruas. Berdasarkan Ditjen Perikanan Budidaya (2010), cacing ini berkembang biak pada media yang mempunyai kandungan oksigen terlarut berkisar antara 2 – 5 ppm, kandungan ammonia kurang dari 1 pp, suhu 28 – 30 0C, dan pH air berkisar antara 6 – 8.

Cacing sutra (Tubifex sp.) merupakan organisme yang hidup didasar sungai, yang berupa lumpur dengan aliran air yang tenang. Cacing ini mencari makanan dengan cara membenamkan bagian anterior (kepala) dalam lumpur. Cacing ini memiliki kandungan gizi yang cukup baik bagi pakan ikan yaitu protein 57 %, lemak 13,3 %, serat kasar 2,04 %, kadar abu 3,6 % dan air 87,7 % (Bintaryanto dan Titik, 2013).

Pembuatan Media Kultur
Tingginya bahan organik dalam media akan menyebabkan jumlah bakteri dan partikel organik hasil dekomposisi oleh bakteri sehingga dapat meningkatkan jumlah bahan makan pada media yang dapat mempengaruhi populasi dan biomassa cacing (Syarip, 1988) dalam Pindonta (2014). Substrat yang digunakan untuk pemeliharaan cacing berupa campuran lumpur dan kotoran ayam petelur dengan perbandingan komposisi masing-masing 1:1 yang diaduk hingga merata. Substrat ditempatkan dalam wadah dengan ketinggian 4 cm dan digenangi air setinggi 2 cm dari permukaan substrat serta dibiarkan selama 3 hari untuk menumbuhkan bakteri didalamnya. Limbah organik sebagai inokulan awal cacing sutera seberat 500 g, 1000 g dan 1500 g masing-masing ditebar ke dalam wadah yang berbeda dan berisi substrat yang telah disiapkan sebelumnya. Penebaran benih dilakukan dengan menebar bibit cacing indukan sebanyak 10 gelas (2-3 liter), kemudian diairi dengan ketinggian 5-7 cm. Selama masa pemeliharaan cacing, air di usahakan tetap mengalir kecil dengan ketinggian air pada 5-10 cm. Setelah 10 hari biasanya bibit cacing sutra mulai tumbuh halus dan merata di seluruh permukaan lumpur dalam kolam. Cacing dipelihara selama 50 hari dalam wadah berukuran 80×20×15 cm dengan debit air 300 ml/menit/wadah (93,75 lpm/m3). Selama pemeliharaan dilakukan pemupukan menggunakan kotoran ayam sebanyak 0,075 g/m2 setiap hari dalam Safruddin et al (2005). 

Pemeliharaan cacing sutera
Setelah dilakukan penebaran bibit didalam media pemeliharaan harus dilakukan pemupukansusulan. Pemupukan susulan adalah pemupukan yang dimasukkankedalam media kultur selamapemeliharaan pakan alami Tubifexdengan dosis 9 % dari dosispemupukan pertama yang sangatbergantung kepada kondisi mediakultur. Pemupukan tersebut sangatberguna bagi pertumbuhan detritus, fungi dan bakteri yang merupakanmakanan utama dari pakan alamiTubifex. Selama dalam pemeliharaan tersebut harus terus dilakukanpemupukan susulan seminggusekali atau dua minggu sekalidengan dosis yang bergantungkepada kondisi media kultur ,biasanya dosis yang digunakanadalah 9% dari pemupukan awal.Pakan alami Tubifex mempunyaisiklus hidup yang relatif singkat yaitu50 – 57 hari. Oleh karena itu agar pembudidayaannya bias berlangsung terus menerus harusselalu diberikan pemupukansusulan. Dalam memberikanpemupukan susulan ini caranyahampir sama dengan pemupukanawal dan ada juga yangmemberikan pemupukansusulannya dalam bentuk larutanpupuk yang dicairkan.
Fungsi utama pemupukan susulan adalah untuk menumbuhkan pakanyang dibutuhkan oleh Tubifex agartumbuh dan berkembang.Berdasarkan kebutuhan pakan bagiTubifex tersebut maka proseduryang dilakukan dalam memberikanpemupukan susulan ada dua cara.Pertama adalah denganmenebarkan secara merata kedalammedia pemeliharaan sejumlahpupuk yang sudah ditimbang sesuaidengan dosis pemupukan susulan.Kedua adalah dengan caramembuat larutan pupuk didalamwadah yang terpisah dengan wadahbudidaya, larutan pupuk tersebut dialirkan keseluruh permukaan media pemeliharaan,dengan dosisyang telah ditentukan.
Frekuensi pemupukan susulan ditentukan dengan melihat sampel air didalam media kultur, parameteryang mudah dilihat adalah jikawarna media pemeliharaan sudahterang didalam media kultur. Hal inidapat dilihat dari warna air mediayang berwarna keruh atau warna the bening. Jika hal tersebut terjadisegera dilakukan pemupukansusulan. Jenis pupuk yang digunakan sama dengan pemupukan awal.
Tingkat kepadatan populasi yang maksimal didalam media kultur adalah 30 – 50 gram permeterpersegi, walaupun ada juga yang mencapai kepadatan 120 – 150 gram permeterpersegi. Untuk mengukur tingkat kepadatan populasi Tubifex didalam mediakultur dilakukan dengan cara sampling beberapa titik dari media, minimal tiga kali sampling. Sampling dilakukan dengan cara mengambil air media kultur yang berisi Tubifex dengan menggunakan baker glass atau erlemeyer. Hitunglah jumlah Tubifex yang terdapat dalam botolcontoh tersebut, data tersebut dapat dikonversikan dengan volume media kultur.

 Pemanenan
Panen pertama dapat dilakukansetelah cacing berumur > 75 hari. Untuk selanjutnya dapt dipanen setiap 15 hari. Cirikolam budidaya cacing yang siap untuk di panen adalah apabila lumpur sebagaimedia pemeliharaan terasa kental bila dipegang.Pemanenan dilakukan dengan cara bak yang berisi cacing sutra ditutup dengan plastik hitam selama 1-2 jam agar cacing sutra berkumpul diatas permukaan lumpur. Setelah cacing sutra berkumpul dipermukaan media kemudian diambil/dipanen, ditiriskan dan diukur volumenya.


Sumber ;
Bintaryanto B W dan T Taufikurohmah. 2013. Pemanfaatan Campuran Limbah Padat (Sludge) Pabrik Kertas Dan Kompos Sebagai Media Budidaya Cacing Sutra (Tubifex .Sp). Journal of chemistry. (2) 1: 1-7.

Ditjen Perikanan Budidaya. 2010. Budidaya Cacing Sutra (Tubifex .Sp) di Kolam dari Limbah Pakan Budidaya Lele.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Pindonta, Romi Tarigan. 2014.  Laju Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Botia (Chromobotia macracanthus) Dengan Pemberian Pakan Cacing Sutera (Tubifex Sp.) Yang Dikultur Dengan Beberapa Jenis Pupuk Kandang. Skripsi. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Shafrudin, D. W. Efiyanti dan Widanarni. 2005. Pemanfaatan Ulang Limbah Organik Dari Substrak Tubifex sp. Di Alam Jurnal Akuakultur Indonesia. Vol 4. No 2. Hal : 97–102. 

Vibriosis pada Udang

Vibriosis pada Udan. Sumber: en.engormix.com

Udang merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan dalam program revitalisasi perikanan, disamping rumput laut dan tuna. Pada awalnya jenis udang yang dibudidayakan di air payau adalah udang windu, namun setelah mewabahnya penyakit terutama WSSV, dan bakteri yang mengakibatkan menurunnya usaha udang windu, pemerintah kemudian mengintroduksi udang vannamei pada tahun 2001 untuk membangkitkan kembali usaha perudangan Indonesia dan dalam rangka diversifikasi komoditas Perikanan.

Kendala yang dihadapi oleh banyak pembudidaya ikan dan udang adalah adanya serangan penyakit yang menyebabkan kematian. Adanya serangan bakteri yang menyebabkan kematian benih/larva udang. Bakteri Vibriosis menyerang larva udang yaitu pada saat udang dalam keadaan stress dan lemah, oleh karena itu sering dikatakan bahwa bakteri termasuk opportunistik pathogen. Dengan adanya kemunculan berbagai jenis penyakit di perairan yang disebabkan oleh bakteri Vibriosis sp. telah berdampak terhadap penurunan hasil produksi budidaya perikanan. Akibat infeksi mikroorganisme patogen tersebut, banyak organisme perairan yang dibudidayakan mengalami kematian massal sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi.

Penyakit Vibriosis yang disebabkan oleh bakteri genus Vibriosis. Sedikitnya berjumlah ada 14 jenis vibrio , yaitu  Vibrio Harveyi, V. splendidus, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, V. anguillarum, V. vulnificus, V. campbelli, V. fischeri, V. damsella, V. pelagicus, V. orientalis, V. ordalii, V. mediterrani, V. logei. Vibriosis adalah suatu penyakit hasil bakteri yang bertanggung jawab pada kematian budidaya udang di seluruh dunia. Infeksi Vibrio sering terjadi di hatcheries, tetapi juga biasanya terjadi dalam kolam pembesaran udang. Vibriosis disebabkan oleh bakteri gram-negative dalam keluarga Vibrionaceae. Masuknya vibrio kemungkinan terjadi ketika faktor lingkungan yang menyebabkan tingkat penambahan bakteri yang sangat cepat, dan ada di dalam darah udang masuk melalui luka ke dalam pori-pori. Insang merupakan bagian yang paling mudah terkena.

Tanda serangan vibrio

Jenis bakteri dari golongan Vibrio harveyi merupakan bakteri yang paling sering menimbulkan kematian massal dalam waktu yang relatif singkat. Bakteri ini menyerang larva udang di panti-panti pembenihan maupun udang yang dibudidayakan di tambak dan dikenal dengan nama penyakit kunang-kunang atau penyakit udang menyala. Udang yang terinfeksi bakteri ini akan bercahaya dalam keadaan gelap dan biasanya menyerang larva pada stadium zoea, mysis dan post larva. Terjadi lima jenis penyakit vibrio yang menyerang udang: necrosis pada ekor, penyakit kulit, penyakit merah, sindrom lepas kulit ( LSS) dan penyakit usus putih ( WGD) yang kesemuanya disebabkan oleh Vibrio Spp. Diantara itu, LSS, WGD, dan penyakit merah menyebabkan angka kematian massal di dalam kolam budidaya udang. Enam jenis Vibrio-V. Harveyi, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, V. anguillarum, V. vulnificus dan V. splendidus-are berhubungan dengan udang yang sakit . Distribusi Dan Komposisi Jenis bakteri luminens di dalam hatcheries udang menunjukkan dengan jelas terhadap kehadiran V. harveyi ( 97.30%) dan V. orientalis ( 2.70%) di dalam usus udang dimana sumber utama bakteri ini didalam hatchery udang adalah bahan kotoran yang berasal dari brood stock yang kemungkinan terjadi sewaktu bertelur.

Angka kematian dalam kaitan dengan vibriosis terjadi ketika udang tertekan oleh faktor seperti: kualitas air yang buruk, kepadatan tinggi ,suhu air tinggi, rendahny oksigen (DO) dan rendahnya pergantian air. Angka kematian tinggi yang pada umumnya terjadi pada postlarvae dan juvenil. Larvae udang windu mengalami kematian dalam waktu 48 jam sejak terkena V. harveyi dan V. splendidus. Udang windu dewasa yang terkena vibriosis nampak hypoxic, menunjukkan badan yang merah ke insang coklat, nafsu makan kurang dan udang berenang lemah di tepi dan permukaan kolam. Vibrio Spp. juga menyebabkan penyakit kaki merah. Enam Vibrio Jenis, Termasuk V. harveyi dan V. splendidus menyebabkan luminesensi, yang kelihatan pada malam hari, menyerang udang pada tingkat postlarvae, muda dan dewasa. Postlarvae yang terkena infeksi juga memperlihatkan pergerakan kurang, mengurangi phototaxis dan usus kosong.

Udang yang terkena vibriosis terlihat ada luka yang terlokalisir sepanjang kulit jangat ini merupakan tanda khas penyakit yang menyerang kulit oleh bakteri., infeksi terlokalisr  dari bocornya luka, hilangnya otot, jaringan yang tidak jelas, peradangan usus atau hepatopancreas dan atau keracunan darah. Luka penyakit kulit hasil bakteri adalah warna coklat atau hitam dan nampak diatas kulit jangat badan, anggota badan atau insang. Postlarvae yang terkena hepatopancreat menunjukkan seperti berawan. Insang sering nampak warna coklat. Pembusukan Hepatopancreatitis dikenali sebagai berhentinya pertumbuhan hepatopancreas dengan multifocal necrosis dan radang haemocytic, yang berisi sejumlah besar Vibrio parahaemolyticus maupun V. harveyi dan melepasnya epithel sel dari dasar lapisan MGT. Lepasnya sel Epithelial tidaklah dilihat sebagai kehadiran bakteri non-pathogenic (probiotics).

Penyebaran Vibrio
Bakteri masuk udang melalui luka atau retakan kulit jangat dan dicernakan dengan makanan. Sumber yang utama V. harveyi di hatcheries berada dalam midgut broodstock udang betina, yang ditumpahkan sewaktu ikan bertelur.

Penanggulangan Vibrio

Pemberian antibiotik secara terus menerus memberikan dampak negatif pada larva udang karena akan meninggalkan residu dalam tubuh dan menyebabkan resistensi terhadap V. Harveyi.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan suatu metode pencegahan dan penanggulangan penyakit vibriosis pada udang windu antara lain penggunaan obat-obatan dan antibiotik. Namun penggunaan antibiotik dan bahan-bahan kimia tidak efektif lagi karena tidak memberikan hasil yang memuaskan, yaitu pada dosis tertentu justru berdampak negatif pada ikan/udang itu sendiri, bahkan dapat menimbulkan resistensi bagi bakteri Vibrio spp. Oleh karena itu perlu dicari alternatif lain dalam upaya penanggulangan penyakit pada usaha budidaya udang windu yang lebih efektif, murah dan ramah lingkungan.


Vibriosis dikendalikan oleh terjaganya kesehatan dan manajemen air yang ketat untuk mencegah masukan vibrios di air dan untuk mengurangi tekanan pada udang . Pemilihan Lokasi baik, Disain Kolam Dan Kolam Persiapan adalah juga penting. Pergantian air setiap hari dan suatu pengurangan biomass di kolam dengan pemanenan parsial direkomendasikan untuk mengurangi angka kematian disebabkan oleh vibriosis. Pengairan, mengeringkan dan mengatur lime/dolomite ke kolam panenan juga direkomendasikan.
Diberdayakan oleh Blogger.